-->

Minggu, 16 Januari 2011

Apakah reggae identik dengan narkoba?


Di Indonesia, beberapa nama yang terkenal dalam dunia musik reggae antara lain Tony Q, Steven & Coconut Treez, Joni Agung (Bali), New Rastafara, dan Heru ’Shaggy Dog’ (Yogyakarta) dan masih banyak lagi bermunculan band-band baru.

Sekitar tahun 1986, musik reggae mulai dikumandangkan di Indonesia. Band itu adalah Black Company, sebuah band dengan genre reggae. Kemudian beberapa tahun kemudian muncul Asian Roots yang merupakan turunan dari band sebelumnya. Lantas ada pula Asian Force, Abresso dan Jamming.
Keberadaan musik reggae di Indonesia terkesan terpinggirkan. Apalagi kesan yang diperoleh ketika seseorang melihat penampilan para musisi reggae yang terkesan urakan. Bahkan, ada idiom yang hingga kini membuatnya yaitu reggae identik dengan narkoba.

Apakah reggae identik dengan narkoba? Inil salah penafsiran sahaja. Sebut saja nama Tony Q yang dengan tegas bahwa reggae-nya adalah menitikberatkan pada cinta damai. Bila ditilik dari sejarahnya memang demikian yaitu identik dengan ‘ital’ –Ganja—sebut saja lagu Petertosh Let Jah Be praised, Mystic man, Legalized it dll. Yang begitu mengagungkan ganja sebagai alat seorang rastaman bersatu dengan Jah atau tuhan mereka. Memang tidak bisa dipungkiri pandangan negatif tentang musik ini.
Sebenarnya tidak demikian gerakan rastafari adalah sebuah gerakan besar yang terdiri banyak sekte bahkan tidak mengikat, artinya seseorang bebas menentukan jalan hidupnya tetapi tetap mengakui Rastafari Makonnen sebagai Messias baru. Bahkan di Jamaika seorang Rastafarian adalah seorang vegetarian tulen. Jika seorang Peter Tosh atau Bob Marley dengan lirik-liriknya yang berbau ganja hanya disebabkan mereka menemukan bahwa itulah suatu jalan menuju kedamaian batinnya saja, disamping makanan ital dan ganja adalah budaya Africa yang menurut mereka sebagai sesuatu yang harus dirangkul kembali.

Dalam ajaran rasta tidak ada yang mengharuskan meng-ganja. Atau meng-gimbal, itu hanyalah pemikiran tentang perangkulan budaya Africa yang dianggap rendah oleh kulit putih, dan pengikut ajaran ini ingin membuktikan bahwa budaya ini tidaklah rendah.

Coba anda resapi lirik dari salah satu lagu Tony Q Rastafara ini:
“”Reggae nggak harus gimbal
Gimbal gak selalu reggae
Reggae nggak harus maganjo
Reggae adalah musiknya pecinta damai
Sapa sing ngomong reggae ora penak
Wong penake kaya ngene…..”


Maju terus Reggae Indonesia





 jangan anggap anak reggae sebelah mata,,,

  ‘ital’ –Ganja—sebut sa


Suatu hal yang membuat saya merasa heran tentang hal yang masyarakat awam  pikir tentang reggae dan juga tentang kepribadian seorang musisi reggae,,setiap mereka memandang bahkan mengdengar bahwa seorang musisi reggae pasti berkepribadian ganjil dan negatif,,seperti minum minuman keras,ngeganja,atau selalu dikaitkan dengan hal yang berbau kriminal,sampai dikaitkan dengan orang yang gila atau gak waras,,apakah separah itu?? dan apakah emang benar demikian??
·                    Rambut gimbal dan musik reggae sering dikait-kaitkan dengan banyak hal negatif, termasuk disebut-sebut dekat dengan penyalahgunaan narkoba dan ganja. Namun hal tersebut merupakan fenomena yang wajib diubah, setidaknya demikianlah pendapat Ras Muha
·                    jeli maipura (bukan musisi tapi salah satu penggemar reggae)"saya berpikir pendapat itu adalah wajar, karena masyarakat kita yang cenderung selalu melihat jelek hal2
·                    mad, yang kukuh menapaki karirnya di jalur reggae.
·                    yang berbeda dari kebanyakan.orang2 yang berambut gimbal selalu di identikan dengan narkoba, mereka tidak salah, karena yang mereka lihat (di tv melalui film barat) adalah memang itu...dan parahnya lagi, hal itu di amini oleh beberapa oknum (kalo boleh saya sebut begitu) rekan2 pecinta reggae, dengan stiker2 reggae dengan gambar daun ganja, bahkan mengartikan rasta sebagai daun ganja... hal itu kan makin menambah kesalah pahaman di masyarakat umum..Untuk mengubah itu ya, mau tidak mau kita harus benar2 bersih hingga bisa menunjukan kepada orang lain bahwa reggae gk selamanya ganja, bahkan reggae bukan ganja, bukan miras, bukan narkoba..!!kampanye untuk hal ini harus sering di utarakan, terutama buat para musisi reggae yang sudah bisa tampil di tv dan dilihat oleh massa yang lebih banyak.."
reggae pencinta damai,dengan expresijiwa dan musik ini sebenarnya sudah terbukti bahwa semua pandangan masyarakat itu bener bener salah,semua boleh berpendapat lain asal jangan sampai memanipulasi karya n hak orang lain,kami para pecinta reggae bukan ingin di gujat tapi ingin menciptakan kedamaian dihati dan jiwa,rambut gimbal bukan juga berarti mirip orang gila,gambar ganja bukan berarti kami selalu pemakai ganja,sejarah mengatakan semua itu hanyalah simbol jika emang ada musisi atau pecinta reggae yang demikian itu hanyalah keinginanan pribadi masing-masing bukan berarti semu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar